Minggu, 19 Juli 2015

Gerbang Langit



Langit cerah, awan putih
Terlihat gerbang emas
Namanya Gerbang Langit
Bersinar menyilaukan mata

Seekor naga menjaga
Gerbang Langit
Bila ingin masuk
Hadapi naga itu

Bertarung...
kalah...
Berunding...
menang...

Cara yang mudah
Sayang...

Hanya sebagian yang tahu
(puisi, karya : Syaiful Anwar)

DOKTER CANTIK PUJAAN HATI


            Hari ini aku bangun pagi karena ada rapat di kantor. Namaku Heru, bekerja di perusahaan eksport-import barang, jabatanku adalah manager di bagian produksi. Aku tinggal di Solo, tempatku bekerja juga di Solo. Biasanya kantorku buka jam 9 pagi tapi karena ada rapat dengan dewan direksi maka jam masuknya dimajukan jam 7 pagi, kalau pulang kantor  jam 4 sore, tapi selama 1 minggu ini aku akan lembur dan pulang jam 3 pagi.
            Meskipun aku harus lembur tapi itu tidak masalah yang penting harus semangat karena kalau kita suka mengeluh dalam bekerja maka kita tidak akan bisa maju. Kata-kata itu aku dapatkan dari kedua orang tuaku. Mereka sudah lama meninggal karena kecelakaan mobil, kejadiaan itu terjadi saat aku masih kecil. Sejak aku kecil aku telah di asuh oleh paman dan bibiku, mereka tidak punya anak jadi mereka sudah aku anggap ayah dan ibuku. Pamanku bernama Pak Joni dan bibiku bernama Bu Heni. Pamanku bekerja sebagai pedagang buah dan bibiku membuka warung makan, sebenarnya pamanku memintaku untuk melanjutkan usahanya tapi aku tidak mau karena aku tidak berminat menjadi pedagang buah, awalnya dia kecewa tapi akhirnya dia menghargai keputusanku untuk bekerja di kantor.
            Aku datang ke kantor tepat jam setengah tujuh pagi, aku langsung ke ruanganku. Sengaja aku datang lebih pagi supaya aku tidak tergesa-gesa dalam menyiapkan bahan untuk rapat nanti. Materi-materi segera aku persiapkan dan aku tata rapi supaya nanti aku bisa menjelaskan berbagai hal yang mau dipertanyakan.
            Jam di dinding sudah menunjukkan angka tujuh, aku segera ke ruang rapat, kami mulai rapatnya. 2 jam kemudian rapat selesai, aku kembalike ruanganku dan mulai mengerjakan tugas-tugas yang belum selesai.
            Jam 12 siang aku pergi ke kantin di bawah untuk makan siang, biasanya aku pesan rawon, tempe goreng, dan es teh. Temanku John datang, dan kami bicara tentang sesuatu.
            “ Hai Heru selamat pagi “ sapa John lalu duduk di sebelahku.
            “ Hai, juga ada apa kamu mau pinjam uang ? “ tanyaku.
            “ Jangan gitu dong, memang sih aku sering pinjam uang sama yang lain tapi kali ini beda aku bukannya mau pinjam uang tapi ada hal lain yang ingin aku beritahu kepadamu “ jawab John.
            “ Apa itu ? “ tanyaku curiga.
            “ Begini, ada klinik baru di jalan Surya, dokternya hebat dan ahli kalau kamu ada keluhan tentang kondisimu atau mungkin keluargamu ada yang sakit kamu bisa berobat ke sana “ jawab John serius.
            “ Oh begitu, baiklah “ kataku singkat.
            Setelah itu kami berdua berbincang-bincang tentang berbagai hal.
            Seminggu kemudian aku sakit demam, 3 hari aku tidak bisa masuk kerja. Saat aku terbaring di rumah, aku teringat kata-kata John yang mengatakan ada dokter yang ahli di Jalan Surya. Aku berdiri dari tempat tidurku dan mengambil handphoneku lalu menelepon John untuk meminta alamat dari dokter tersebut.
            John menjawabnya dan mengirimkan aku sms dari dokter yang dia beritahukan. Mengetahui alamat dokter tersebut aku lalu menuju alamat yang dimaksud. Aku telah sampai di jalan Surya dan aku melihat sebuah klinik yang sederhana tapi ramai. Aku merasa heran mengapa pasiennya banyak yang laki-laki. Aku jadi penasaran seperti apa sih dokternya.
Untuk masuk diperiksa oleh dokter tersebut kita harus antri terlebih dahulu. Aku masih menunggu antrian lama. Sambil menunggu aku membaca koran yang telah disediakan. Lama sekali aku mengantri, ketika aku menunggu giliran, ada lagi pasien yang datang, dan yang datang adalah laki-laki. Aku semakin heran ini klinik untuk laki-laki, kenapa yang datang malah laki-laki. Kalau dihitung pengunjung perempuan kira-kira hanya 10 % sedangkan yang laki-laki sekitar 90 %.
            Setelah lama menunggu akhirnya aku dipanggil juga, saat aku masuk ke ruangan aku terkejut karena dokter yang memeriksaku masih muda dan cantik. Dokter itu memeriksaku, sambil memeriksa, kami berdua berbincang-bincang. Nama dokter tersebut adalah Yeny, dia baru saja membuka klinik ini, sebelumnya dia bekerja di salah satu rumah sakit di Solo, dia tidak menyangka bahwa klinik yang baru saja dia buka akan seramai ini. Ada pengalaman lucu ketika dia memeriksa pasien yaitu, ada pasien laki-laki yang mengeluh perutnya lapar karena dia belum makan, mendengar cerita itu aku tahu alasan laki-laki tersebut periksa di klinik ini.
Selesai memeriksa dia memberiku resep dan aku meminta no hpnya, dia bertanya untuk apa, aku memberikan alasan kalau nanti aku sakit lagi aku akan menghubunginya. Dia agak ragu dengan alasanku tapi dia memberiku no hpnya. Aku senang mendapat no hp dokter cantik ini. Malamnya aku sms Yeny dengan alasan aku lupa dengan resepnya, tapi yang membalas malah temannya namanya Rika. Aku kesal karena dia mengerjaiku dan dia malah memberikan no hp temannya.
3 Hari kemudian kondisiku lumayan membaik, aku masuk kerja. Saat aku masuk kerjaanku tidak terlalu banyak. Ketika aku mengerjakan pekerjaanku, entah kenapa aku menulis puisi cinta untuk Yeny, teman kerjaku melihat hasil kerjaku heran dan bertanya kepadaku apa yang aku tulis di komputerku, dengan enteng aku mengatakan data-data tentang produksi. Dia bertanya kepadaku memangnya dalam data produksi ada namanya Yeny si bidadari surga. Aku terkejut dan menghapus puisi yang aku buat lalu mengatakan kalau tadi aku salah ketik, dia memandangku dengan heran kemudian tersenyum sambil meninggalkanku yang melongo karena heran. Aku kemudian melanjutkan pekerjaanku dengan serius karena takut nanti salah ketik lagi.
Wajah dokter cantik itu menghantuiku, selama 2 minggu aku gelisah, sulit tidur, susah makan, dan melamun tidak jelas. Aku bepikir mungkin aku sakit, jadi aku putuskan ke tempat dokter Yeny untuk check up. Aku bergegas check up, aku minta cuti selama 1 minggu tapi aku hanya di perbolehkan selama 3 hari. Awalnya aku menolak tapi aku akhirnya menerima daripada aku tidak dapat cuti.
Saat di sana aku mengantri lama lagi karena banyak pasien laki-laki yang datang untuk periksa. Aku curiga mereka pasti bukan datang untuk periksa melainkan ingin bertemu Yeny, aku sebenarnya ingin mengusir mereka tapi aku tidak bisa melakukannya karena aku tidak punya bukti dan tidak punya wewenang di sini, kalau aku adalah ketua RT di sini akan aku usir mereka, aku hanya bisa menahan kesal karena tidak bisa mengusir mereka.
3 jam kemudian akhirnya aku bisa periksa, aku benar-benar sebal karena aku harus mengantri lama untuk periksa di sini. Sebenarnya aku ingin periksa di tempat lain tapi kenapa aku merasa ada magnet yang menarikku kemari. Aku masuk dan jantungku semakin berdegup kencang bertemu Yeny.
“ Anda sakit apa mas ? “ tanya Yeny lembut.
“ Saya gelisah, susah tidur, dan sering melamun, yang lebih aneh lagi sekarang saya gemetar, dan jantung berdegup kencang, itu kenapa ya dok ? “ tanyaku.
Yeny mulai memeriksaku, dan berkata sepertinya aku sedang jatuh cinta, obatnya cuma satu sampaikan perasaanku kepada si gadis. Aku mengangguk dan mengajak dia makan malam. Yeny terkejut, melihatku agak lama lalu mengangguk, dia memberiku nomor hpnya. Aku menelepon nomor tersebut, lalu dia mengambil hpnya. Aku berkata itu nomor hpku, dia hanya tersenyum.
Aku senang sekali karena telah mendapat nomor hpnya. Dia memberikan vitamin untuk kesehatan dan staminaku, lalu aku pulang ke rumah. Aku senang karena dia tidak menipuku kali ini. Selesai makan siang, aku duduk dan berpikir tempat yang pas untuk mengajak Yeny makan malam. Setelah berpikir cukup lama akhirnya aku menemukan tempat yang pas untuk mengajak dia makan, tempat tersebut bagus dan suasananya romantis.
Aku mengambil teleponku dan memesan tempat di restaurant tersebut. Selesai memesan aku menghubungi Yeny, dan bertanya dimana alamat rumahnya. Dia lalu memberitahuku alamatnya yaitu di jalan Anggrek no 85, aku memberitahunya akan menjemput dia jam 7 malam, dia mengatakan iya.
Aku senang sekali, aku tidak sabar untuk menjemput dia dan mengajaknya untuk makan malam. Jam 7 malam telah berdentang, aku segera masuk ke dalam mobilku dan melaju dengan cepat ke jalan Anggrek no 85. Ku berhenti di depan rumah Yeny, lalu mengetuk pintu rumahnya. Ibunya membukakan pintu dan menyuruhku masuk, Yeny dipanggil dan aku terkejut karena ternyata Yeny sangat cantik. Dia mengenakan gaun warna merah, membuat dirinya tampak mempesona dan seksi.
Kami pamitan untuk makan malam di restaurant yang telah aku pesan. Yeny terkejut karena restaurant yang akan kami kunjungi adalah restaurant Green House, salah satu 5 restaurant terkenal di Solo. Kami masuk , makan, dan berbincang banyak hal. Selesai makan aku mengantarkan Yeny pulang. Ketika dia mau keluar dari mobil, tiba-tiba dia mencium pipiku, lalu dia bergegas masuk rumahnya dan ,mengucapkan hati-hati di jalan.
Aku terdiam cukup lama sambil memegang pipiku, aku bergegas pulang. Ketika tidur aku bermimpi menikah dengan Yeny lalu dia melahirkan anak laki-laki, ketika aku menggendong anakku dia tiba-tiba menangis. Aku terkejut lalu bangun dari mimpiku, saat aku melihat sekitar, aku mencari Yeny dan anakku tapi tidak kutemukan. Aku merasa aneh lalu duduk, sambil mengumpulkan nyawa. Dalam diam aku memikirkan kejadian tadi, lalu aku sadar bahwa tadi hanya mimpi.
Aku tersenyum karena aku bertingkah konyol dan aneh. Aku bergegas mandi dan bersiap untuk berangkat kerja. Ketika aku di kantor, aku mengerjakan pekerjaanku sambil tersenyum-senyum. Teman-temanku merasa aneh denganku, mereka mendekatiku lalu menyemburku dengan air. Aku diam lalu memandang temanku, mereka pikir aku kesurupan makhluk halus. Mereka menyemburku supaya makhluk yang merasukiku pergi, cara itu mereka dapatkan dari film yang mereka tonton di tv. Aku berkata kalau aku tidak kesurupan dan jangan menyemburku dengan air lagi. Temanku mengatakan ok lalu pergi.
Aku makan di kantin, John mendekati dan menanyakan keadaanku.
“ Heru, kau baik-baik saja kan ? “ tanya John.
“ Iya, kenapa ? “ tanyaku aneh.
“ Begini, banyak teman-teman yang cerita kalau kamu sering melamun lalu tanpa sebab kamu sering mencium tangan laki-laki dengan paksa dan lebih parahnya lagi kamu memeluk mereka sambil berusaha mencium mereka “ jawab John agak takut di dekatku.
Aku kaget dan menyemburkan makananku lalu batuk kemudian minum teh lalu kembali tenang.
“ Sebenarnya itu cuma gosip mana mungkin aku seperti itu “ kataku lalu minum teh.
“ Oh begitu...baguslah kalau begitu aku benar-benar khawatir tadi “ kata John lega.
Aku cuma mengangguk lalu minum teh dan bergegas pergi. Aku benar-benar idak menyangka kalau rasa sukaku terhadap Yeny sangat tinggi sampai-sampai aku melakukan hal konyol itu, yang lebih parahnya lagi John tahu tentang kejadian itu, untung saja dia percaya kalau tidak seluruh kantor bakal gempar dan bisa-bisa aku di cap sebagai orang aneh.
Ketika aku lewat banyak karyawan yang melihatku seperti hantu, ada yang menghindar dan menatapku cukup lama. Aku merasa ini adalah keadaan gawat darurat sepertinya aku harus menembak Yeny dengan cepat kalau tidak keadaannya bisa tambah parah. Aku ingin menembak tapi tidak berani karena aku baru kenal dia beberapa bulan dan menurutku saatnya tidak tepat.
Aku dan Yeny sudah cukup dekat, kami sudah nonton bioskop, makan bersama,  dan jalan-jalan. Orang tuanya dan aku cukup dekat, setiap kali aku mau menembak dia pasti ada saja halangannya. Ketika aku mau menembak dia di restaurant lampunya mati dan tidak jadi, mau menembak dia di kliniknya aku malah membantu dia merawat pasiennya dan tidak jadi, masih banyak kejadian lainnya yang membuatku tidak jadi menembak dia.
John melihatku tampak lesu di kantin kantor dia bertanya ada apa denganku. Aku tidak mau menjawabnya tapi karena dia memaksa akhirnya aku memberitahu dia bahwa aku menyukai dokter cantik yang dia rekomendasikan kepadaku saat sakit. John menatapku heran cukup lama, lalu minum tehku, dan berkata kalau aku suka dia tembak saja. Aku cerita setiap kali aku mau menembak dia selalu saja gagal. Dia mendengarkanku dengan seksama lalu dia diam cukup lama dia bertanya apakah aku serius dengan Yeny, dengan tegas aku jawab iya.
John diam lalu meninggalkanku dalam kebingungan. Aku kembali ke ruanganku dan mulai mengerjakan tugas-tugasku yang belum selesai. Waktu menunjukkan pukul 9 malam, aku istirahat sebentar sambil minum kopiku. Aku menatap komputer cukup lama lalu menghela nafas, membereskan pekerjaanku. Setelah selesai aku matikan komputerku lalu pulang ke rumah.
Aku membuka pintu rumahku, mengganti baju, membuka kulkas mengambil minuman dingin, lalu meminumnya di meja. Aku merasa Yeny membayangi hidupku, tapi setiap kali aku mau menembaknya selalu saja gagal. Aku sudah putus asa, mungkin sebaiknya aku berteman dengan dia. Cukup lama aku mempertimbangkannya, jam 1 pagi aku putuskan untuk berteman dengan dia saja karena aku sudah capek selalu saja gagal ingin menembaknya.
Pagi hari aku merasa malas kerja mungkin karena aku memutuskan hal yang di luar hatiku yaitu merelakan cintaku pergi. Aku datang ke kantor tanpa gairah, jam istirahat datang John menemuiku di kantin.
“Hai Heru, kenapa kamu hari ini terlihat lesu dan tidak bersemangat sama sekali ? “ tanya John penasaran.
Aku cerita tentang keputusanku, John diam seperti berpikir kemudian tersenyum.
“ Baguslah kalau begitu, sebenarnya Yeny itu temanku, aku khawatir bila kau merebutnya dariku, aku sudah suka dia dari dulu “ kata John.
“ Oh begitu, baguslah kalau begitu tembak saja dia “ kataku.
“ ...bagaimana kalau kita berdua taruhan ? Siapa yang gagal mendapatkan Yeny dia harus mentraktir bakso Bang Somad selama 3 bulan, bagaimana kau mau ? “ tanya John penuh percaya diri.
“ Aku tidak tertarik “ jawabku malas.
“ ...ternyata kau itu hanya seorang pengecut ya, kau tahu Yeny itu seksi dan cantik lalu dia terlihat seperti buah mangga yang manis, kau tahu mangga yang manis “ kata John sambil mengejekku.
“ Apa katamu ? jaga bicaramu, dia itu perempuan terhormat “ jawaku mulai kesal.
“ Bagiku dia itu hanya mangga yang manis, seharusnya kau terima pertaruhan ini kalau kau bersedia dia akan jadi milikmu kalo tidak kau tahu bukan apa yang akan terjadi “ kata John sambil tersenyum licik.
“ Brengsek kau John, aku terima, tidak akan ku biarkan kau menang “ kataku marah.
“ Baiklah, pastikan kau menang “ kata John lalu pergi.
 Aku kembali ke ruanganku dengan perasaan kesal, pikiranku kalut dan marah., yang ada di pikiranku adalah tidak akan membiarkan John mendapatkan Yeny. Aku sms Yeny untuk mengajak dia makan sepulang dari kantor di rumah makan Padang langgananku, 15 menit kemudian dia membalas smsku dengan jawaban iya.
Sepulang dari kantor aku menjemput Yeny di kliniknya, lalu kami pergi makan di rumah makan Padang di daerah Bintara. Tempat ini adalah tempat yang sering aku kunjungi karena makanannya enak, meskipun harganya terbilang mahal tapi menurutku sepadan dengan kualitas dan rasanya.
Ketika makan kami membicarakan banyak hal, selesai makan aku mengajak dia untuk pergi ke alun-alun, awalnya dia menolak tapi karena aku sedikit memaksa dia akhirnya mau. Kami berangkat ke alun-alun kota, di sana kami membeli makanan kecil, beberapa souvenir, dan berfoto ria.
Waktu sudah menunjukkan malam hari, aku mengantar dia pulang. Selesai mengantar dia pulang aku segera kembali ke rumahku. Aku membuka laporanku dan mengerjakan beberapa tugasku yang belum selesai.
 Aku dan John mendekati Yeny dengan berbagai cara, dari mengajak jalan, memberi dia pakaian, memasak makanan, berbagai tantangan aku dan John lakukan untuk memenangkan hati Yeny. Aku selalu menang dibandingkan John, itu membuatku senang, lalu di depan John aku menembak Yeny.
Beberapa saat Yeny diam lalu mengangguk setuju, John bertepuk tangan dan mengucapkan selalamat karena aku telah jadian dengan Yeny. Aku bingung lalu John menjelaskan padaku bahwa Yeny dan dia itu saudara sepupu. Dia berpura-pura dan menjalin kerjasama bersama Yeny supaya aku berani menembaknya. Dia berkata bahwa sebenarnya Yeny menyukaiku tapi dia menunggu aku menembaknya.
Awalnya Yeny menolak tapi akhirnya setuju karena John memaksanya. Aku diam lalu mengucapkan terima kasih karena dia telah membantuku.
“ Terima kasih John, oh iya jangan lupa tentang taruhan kita ya “ kataku sambil tersenyum.
“ Taruhan apa ? Kak John bisa kau jelaskan tentang itu ? kok aku tidak tahu “ kata Yeny mulai kesal.
“ Apa ?...ti...tidak ada taruhan apa-apa kok “ kata John mulai gugup.
“ Apa ? kamu lupa ? bukankah kalau kita kalah maka dia harus menuruti yang menang selama 3 bulan “ kataku tersenyum sinis.
“ Kak John...apa maksudnya itu ? “ tanya Yeny kesal.
“ Itu...itu...Heru...kau...kau...ha...ha...maaf aku ada urusan “ kata John menghindar dariku dan Yeny.
“ KAK JOHNNNNNNNNNN !!!  “ teriak Yeny lalu menjewer telinga John sambil betanya apa maksudku lalu dia menjelaskan semuanya, aku senang karena berhasil membalas perbuatan John.
Aku dan Yeny akhirnya pacaran, kami menghabiskan waktu bersama. 1 tahun kemudian aku dan Yeny menikah. Yeny tetap melanjutkan kliniknya sedangkan aku membuka usaha perusahaan konstruksi bangunan. Kami dikarunai satu putra yang kami beri nama Sigit Widiyanto. (Cerpen, karya : Syaiful Anwar)