Rabu, 29 April 2015

Seruling Bambu

Sebuah pondok mungil
Menggetarkan hati lelaki
Wanita bergaun putih
Bermain seruling bambu

Suara merdu, buat merindu
Menutup mata, teringat surga
Wajah cantik, tubuh molek
Idaman lelaki

Tapi...
Wanita cantik memilih kaisar
Hati lelaki hancur
Kaisar sangat gembira

Akhir cerita mereka bahagia

Itulah keajaiban seruling bambu
(puisi karya : Syaiful Anwar)

BUKU HARIAN SISKA

            Sudah 10 hari sejak meninggalnya Siska karena sakit jantung. Banyak pihak yang tidak menyangka bahwa wanita berhati malaikat ini meninggalnya begitu cepatnya. Suasana rumah masih dirudung duka yang mendalam. Malam hari keluarga besar Siska masih membicarakan banyak hal terutama tentang kebaikan almarhumah yang masih membekas.
            Siska punya sahabat karib yang kuliah di Australia namanya adalah John. Mereka berdua sudah bersahabat sejak tk, mereka adalah tetangga. Setelah lulus SMA John meneruskan studinya di Australia, dia sudah mengajak Siska untuk melanjutkan studinya di Australia bersama, tapi Siska menolak dia mengatakan lebih suka melanjutkan studinya di Jogjakarta karena ini adalah kota kelahirannya dan kota tempat dia tinggal. Ada perasaan menyesal di hati John, di berpikir mungkin saja bila dia memaksa Siska untuk kuliah dengannya di Australia, mungkin sahabatnya itu masih hidup.
            Keluarga John dan keluarga Siska mengatakan bahwa ini adalah suratan takdir yang tidak bisa di ubah. Ibunda Siska mengajak John ke kamar Siska, di sana beliau memberikan John buku harian anaknya. Ibunda Siska mengatakan bahwa sebelum anaknya meninggal dia memberitahu untuk memberikan buku harian ini kepada John, dia mengatakan ada hal yang tidak bisa di sampaikan Siska kepadanya, bila John membacanya maka hal yang ingin dia beritahukan akan tersampaikan dengan lebih jelas.
            John tidak mengerti maksudnya, Ibunda Siska meninggalkan John yang membaca buku harian anaknya sendirian di kamar Siska. John mulai membaca buku harian Siska pelan-pelan untuk mengerti maksud dari kalimat terakhir Siska sebelum meninggal.
Yogyakarta, 20 maret 2003
            Dear Diary,
            20 Februari 1998 adalah hari pertamaku tiba di Yogyakarta, sebenarnya aku tidak tertarik datang ke tempat ini karena aku lebih suka di Jakarta. Aku khawatir tidak bisa berbaur dengan sekitarku, bagaimana ya ??? Aku terpaksa ikut ke Yogyakarta karena ayahku dipindah ke kantor cabang Yogyakarta, sebenarnya aku tidak mau ikut tapi kedua ortuku memaksa, akhirnya aku pindah ke sini dengan hati yang dongkol. Ayahku bekerja di perusahaan konstruksi di bagian manajer marketing, sedangkan ibuku adalah ibu rumah tangga. Aku adalah anak tunggal jadi kadang aku merasa kesepian karena tidak punya saudara yang tidak bisa aku jadikan tempat curahan hati atau teman bermain, tapi rasa kesepian itu hilang sejak aku bertemu dengan John...
            Tiba-tiba ada cahaya yang memancar di buku Harian Siska John terkejut lalu...
            John merasa pusing dan badannya terasa berat, sepertinya tadi ada cahaya terang yang menyilaukan matanya lalu seperti ada kekuatan aneh yang menarik dia dan membuatnya pingsan. Dia membuka matanya, bangkit berdiri dan dia terkejut karena dia sekarang berada di depan rumahnya saat masih kecil. John mengucek-ngucek matanya, barangkali dia salah lihat, sebab dia tadi ada di kamar Siska tapi sekarang berada di depan rumahnya yang dulu.
            Pagar rumahnya yang dulu terbuka lalu keluarlah anak kecil, John terkejut dan diam terpaku. Tubuhnya bergetar ketakutan, keringatnya mengalir, jantung berdetak kencang, mata terbuka lebar, mulut juga terbuka, dan diam bagai patung, karena saat ini dia melihat dirinya yang masih kecil.
            John kecil keluar rumah dan melihat ada anak kecil keluar, kemudian John kecil tersenyum kecil lalu masuk rumah. John menolehkan kepalanya ke samping dan dia melihat Siska kecil, seketika itu juga tubunhya lemas lalu dia duduk di jalan. Dia menutup matanya dan berusaha untuk mengatur nafas. Dia berpikir supaya kuat karena dia punya tujuan untuk mengetahui hal yang ingin disampaikan Siska kepada dirinya. Dia menguatkan dirinya, membuka mata dan bangkit berdiri dengan sikap yang gagah.
            Siska kecil melihat rumah tersebut dengan cemberut lalu ada tulisan berwarna hitam di depan John
            Sore hari saat aku membuka pagar rumahku, aku bertemu dengan John. Aku merasa aneh mengapa dia berdiri di depan pagar rumahku sambil tersenyum, mungkinkah anak ini sakit jiwa atau ??? Aku tidak bisa mengatakan apa-apa karena menurutku anak ini aneh dan ...
            Suasana berubah dan John melihat dirinya yang masih kecil berdiri di depan rumah Siska. Momen ini adalah momen ketika John berkenalan dengan Siska, awalnya dia pikir Siska gadis judes tapi lama-lama dia terlihat lembut dan baik hati. Setelah selesai berkenalan John kecil berjoget-joget senang dan menyanyi, Siska membuka pagarnya lalu dia berakting sambil mengatakan cuaca hari ini bagus lalu dia berjalan pelan 5 langkah lalu berlari menuju lapangan. Siska bingung lalu menutup pagarnya, John terdiam mengingat tingkahnya yang konyol waktu itu.
            John merasa aneh dan garuk-garuk kepala, dia duduk di tengah jalan sambil menutup mata, dan berpikir keras. Dia membuka mata, mengernyitkan dahi lalu menghela nafas, diam memandang tanah, kemudian menghela nafas lagi dan berdiri. Dia masih belum menemukan jawaban dan dia bertekad mengikuti kejadian ini sampai akhir karena dia yakin bahwa peristiwa ini ada hubungannya dengan perkataan Siska yang ingin dia ketahui sebelum meninggal.
            Muncullah tulisan warna hitam di udara...
            Yogyakarta, 16 Juni 2003
Dear Diary,
            Sudah 3 bulan ini aku sekolah di SDN Taman Harapan Yogyakarta, ternyata ketakutanku tidak terbukti. Aku mendapat banyak teman baik terutama my hero...
            John merasa aneh dan kesal karena di tulisan tersebut Siska menyebut My Hero, John memutuskan akan menemui Ana, karena teman curhat Siska adalah Ana. Jadi dia beranggapan bahwa Ana tahu siapa pahlawannya Siska.
            Hari-hari di SD sangat menyenangkan tapi ada kejadian yang nyebelin banget. Waktu itu aku membuat kincir angin tapi gara-gara si bodoh John, kincir angin buatanku rusak, aku menangis dan tidak menyapanya selama 1 minggu tapi dia diam-diam malah memperbaiki kincir anginku, walaupun hasilnya tidak begitu bagus ya aku terima aja dan si bodoh itu aku maafkan.
            Tiba-tiba suasana berubah...
            John berada di kelasnya yang dulu saat masih SD, saat melihat Siska kecil John mendekati dan memarahi Siska kecil karena dengan seenaknya memanggil dia bodoh. Dia bertanya kepada Siska kecil mengapa dia dipanggil bodoh, tapi Siska kecil tidak menjawab. John sudah memutuskan setelah kejadian ini dia akan ke makam Siska dan bertanya mengapa dia dipanggil bodoh.
            John kecil mendekati Siska yang menunjukkan hasil prakaryanya berupa kincir angin.
            “ Siska apa itu ? “ tanya John kecil.
            “ Ini namanya kincir angin, lihat ya “ jawab Siska kecil lalu menunjukkan hasil prakaryanya dan semua teman bahkan John kecil tercengang melihat kincir angin ersebut.
            “ Hebat “ kata John kecil takjub.
            “ Kamu buat apa ? “ tanya Siska kecil penasaran.
            “ Aku buat Godzila “ jawab John kecil menunjukkan hasil prakaryanya yang dari kayu.
            “ Itu Godzila atau ulat raksasa ?  “ tanya Siska kecil bingung dengan prakarya John kecil.
            “ Ini Godzila “ jawab John kecil jengkel.
            John menahan tawa melihat dirinya yang ternyata benar-benar lugu karena tidak bisa membuat Godzila, malah prakaryanya terlihat seperti ulat raksasa. Pelajaran dimulai dan banyak murid yang menunjukkan hasil prakaryanya, guru dan para murid banyak yang mengatakan prakarya Siska hebat, sedangkan prakarya John membuat semuanya tertawa dan juga senang.
            Ketika istirahat pertama, John mendekati Siska dan meminjam kincir anginnya akan tetapi Siska tidak mengizinkannya sehingga John memaksa lalu prakarya Siska tidak sengaja John rusakkan. Siska menangis dan banyak anak yang menyalahkan John, melihat Siska menangis John meminta maaf tapi Siska malah diam dan mengatakan John anak nakal. Mendengar itu John diam mematung.
            John melihat itu sedih, dia merasa bersalah ketika melihat Siska kecil menangis, suasana berubah lagi dan dia melihat dirinya yang masih kecil berusaha memperbaiki kincir anginnya Siska. Seminggu kemudian dia berhasil memperbaiki kincir angin tersebut tapi hasilnya tidak memuaskan. Melihat dirinya yang waktu kecil tidak bisa memperbaiki kincir angin membuat John semakin miris dan sedih, dia baru tahu ternyata saat kecil dia itu bodoh.
            John kecil mengunjungi Siska untuk memberikan kincir angin yang telah dia perbaiki tapi bukannya pujian yang dia dapatkan melainkan kata-kata menghina. John hanya diam lalu meminta maaf, Siska diam dan mengacuhkannya tapi John melihat ada senyuman kecil di wajah Siska kecil. Dia heran apakah itu hanya halusinasi atau sebuah kenyataan.
5 Agustus 2011
            Dear Diary,
            Tidak terasa hari kelulusan akan tiba, tahun depan kami semua akan melanjutkan kuliah atau bekerja. Aku jadi tidak sabar untuk menghadapi hari esok, aku punya planning sendiri. Aku mau kuliah, kerja lalu nikah, kalau aku memikirkan menikah aku pasti mikirin dia, aku jadi malu sendiri, tapi dia tahu tidak ya, kalau aku suka dia. Dia kenapa tidak nembak aku ??? padahal aku udah berikan dia tanda, dia malah cuek, aku jadi sebel. Apa aku harus nembak dia ya ??? enggak ah kan malu kalau cewek nembak cowok, sebel....sebel...sebel, aku hanya bisa berharap dia nembak aku...
            John semakin kesal membaca tulisan dari diary Siska, dia akan cari tahu siapa laki-laki yang disukai Siska. Dia akan memukul laki-laki itu karena tidak segera menembak Siska, dia pemanasan bersiap untuk menghajar laki-laki tersebut. Sebentar lagi suasana berubah dan wajah laki-laki bodoh itu akan kelihatan tapi...
2 Januari 2012
            Dear Diary,
            Kemarin waktu tahun baru, kami merayakannya di rumah John. Bersama-sama teman SMA kami merayakan acara tersebut, meskipun acaranya menyenangkan tapi begitu menyedihkan itu karena...
            John kesal dan memaki-maki tulisan tersebut, dia berharap yang keluar adalah wajah laki-laki yang disukai Siska tapi yang keluar malah tulisan saat tahun baru. Dia berkata banyak hal sambil memukul dan menendang tulisan itu. 30 Menit kemudian dia kembali tenang dan membaca tulisan yang masih belum hilang itu. Dia penasaran kenapa Siska sedih pada saat itu apa yang membuat dia sedih, dia mengingat-ingat acara tersebut. Ketika dia mencoba mengingat suasana berubah kembali saat tahun baru di rumah John.
            John melihat dirinya dan Siska berbicara 4 mata.
            “ Siska, kamu rencananya setelah ini mau kemana ? “ tanya John.
            “ Aku mau meneruskan kuliah di Yogyakarta, kalau kamu ? “ tanya Siska.
            “ Aku juga mau meneruskan kuliah tapi...aku mau melanjutkan kuliah di Australia, kau mau kan ikut denganku ? “ tanya John penuh harap.
            “ Hmmm...sebenarnya aku mau ikut denganmu tapi sepertinya aku tidak bisa karena aku mau kuliah di sini “ jawab Siska.
            “ Kenapa ? bukankah kamu mau melanjutkan studi di tempat yang baik, kita bisa mendapatkan pendidikan yang baik di sana, ayolah pertimbangkan baik-baik tawaranku “ pinta John agak memaksa.
            “ Maaf aku tidak bisa, aku hanya ingin kuliah di tempat yang bisa membuatku nyaman dan itu di sini, sudahlah kita kan bisa saling memberi kabar melalui sosmed atau telepon “ kata Siska.
            “ Baiklah, kalau itu keptusanmu, aku tidak akan memaksa, tapi kamu baik-baik ya disini kalau ada apa-apa bilang kepadaku, oke sayang ? “ tanya John mengedipkan matanya.
            “ Sayang...sayang...kepalamu peyang, dasar genit ayo kita kembali “ jawab Siska kesal.
            John melihatnya dengan diam lalu suasana tempat pun menjadi hitam pekat, dia masih tidak mengerti apa yang membuat sahabatnya itu bersedih.
            Cahaya putih yang pekat menyinari dirinya, dia melihat Siska berdiri di depannya. John diam cukup lama, mendekati Siska dan memegang wajahnya. Dia dapat menyentuh sahabatnya itu, dia bertanya banyak hal kepada sahabatnya.
            “ Aku benar-benar senang, ternyata kamu masih hidup, ayo kita menemui semuanya” kata John senang.
            “ Maaf aku tidak bisa waktuku terbatas “ kata Siska sedih.
            “ Apa maksudmu ? “ tanya John tidak mengerti.
            “ Aku sudah tidak ada di dunia ini John, kau harus tahu itu, aku bisa ada di sini karena ada yang harus aku sampaikan kepadamu “ kata Siska.
            “ Apa ? jadi kamu...kamu...tidak kamu tidak boleh pergi lagi...karena aku...karena aku...karena aku mencintaimu “ kata John yang matanya berkaca-kaca.
            “ Sama aku juga mencintaimu, tapi sekarang aku harus pergi “ kata Siska tersenyum sambil meneteskan air matanya.
            “ TIDAK !!! KAMU TIDAK BOLEH PERGI !!! AKAN AKU LAKUKAN APAPUN AGAR KAMU HIDUP KEMBALI !!! MESKIPUN HARUS MENJUAL JIWAKU PADA SETAN !!! AKU RELA...AKU RELA !!! KUMOHON TUNGGU AKU !!! “ teriak John sambil menangis.
            “ Jangan menangis lagi, aku tahu ini berat bagimu, tapi dengarkan aku, dimanapun kamu berada aku akan selalu ada di hatimu, jangan melakukan hal itu, terimalah kenyataan ini, kamu harus bergerak maju, kalau kamu melakukannya sama saja kamu melukai hatiku, ingatlah itu John “ kata Siska memegang wajah John sambil menangis,
            “ Tanpamu...aku tidak bisa apa-apa...kamulah tujuanku...kamulah mimpiku...aku harus bagaimana ? “ tanya John yang terduduk lemas sambil menangis.
            “ Jadilah orang sukses, bantulah orang-orang di sekitarmu, menikahlah dengan perempuan yang baik, jadikan keluargamu menjadi keluarga yang harmonis, milikilah anak yang baik, dan...dan...dan lakukan hal-hal yang membuatmu senang dan bahagia...mulailah kejar mimpimu, karena hal itu yang akan membuatmu bertahan terhadap segala rintangan berat “ jawab Siska sambil menangis.
            “ ...kalau itu maumu akan aku lakukan permintaanmu, dimanapun kau berada, di dalam hatiku ada namamu yang terukir di dalam hatiku untuk selamanya...dan...dan...dan...aku...aku sudah melepasmu...hiduplah dengan tenang di sana...wahai my angel Siska “ kata John berdiri lalu menangis.
            “ Terima kasih, karena kau telah rela aku pergi my hero John “ kata Siska lalu menghilang.
            Semuanya berubah menjadi putih lalu...
            John membuka matanya, dia bangun dan dia telah berada di rumah sakit. Ibunya melihat dia telah bangun dan memanggil dokter. Setelah selesai memeriksa dokter menyatakan kondisinya baik-baik saja dan dalam waktu dekat dia bisa pulang.
            Satu minggu kemudian John telah pulang dari rumah sakit, menurut kesaksian dari ibunya dia telah pingsan selama 3 hari. Dia memberitahu keluarga Siska dan teman-temanya tentang kejadiaan yang menimpanya.
            Dia bersama keluarga dan teman-temannya mengunjungi makam Siska dan berdoa untuknya. John berjanji akan memenuhi permintaan Siska. (cerpen karya : Syaiful Anwar)