Sudah 10
hari sejak meninggalnya Siska karena sakit jantung. Banyak pihak yang tidak
menyangka bahwa wanita berhati malaikat ini meninggalnya begitu cepatnya.
Suasana rumah masih dirudung duka yang mendalam. Malam hari keluarga besar
Siska masih membicarakan banyak hal terutama tentang kebaikan almarhumah yang
masih membekas.
Siska punya
sahabat karib yang kuliah di Australia namanya adalah John. Mereka berdua sudah
bersahabat sejak tk, mereka adalah tetangga. Setelah lulus SMA John meneruskan
studinya di Australia, dia sudah mengajak Siska untuk melanjutkan studinya di
Australia bersama, tapi Siska menolak dia mengatakan lebih suka melanjutkan
studinya di Jogjakarta karena ini adalah kota kelahirannya dan kota tempat dia
tinggal. Ada perasaan menyesal di hati John, di berpikir mungkin saja bila dia
memaksa Siska untuk kuliah dengannya di Australia, mungkin sahabatnya itu masih
hidup.
Keluarga
John dan keluarga Siska mengatakan bahwa ini adalah suratan takdir yang tidak
bisa di ubah. Ibunda Siska mengajak John ke kamar Siska, di sana beliau
memberikan John buku harian anaknya. Ibunda Siska mengatakan bahwa sebelum
anaknya meninggal dia memberitahu untuk memberikan buku harian ini kepada John,
dia mengatakan ada hal yang tidak bisa di sampaikan Siska kepadanya, bila John
membacanya maka hal yang ingin dia beritahukan akan tersampaikan dengan lebih
jelas.
John tidak mengerti
maksudnya, Ibunda Siska meninggalkan John yang membaca buku harian anaknya
sendirian di kamar Siska. John mulai membaca buku harian Siska pelan-pelan
untuk mengerti maksud dari kalimat terakhir Siska sebelum meninggal.
Yogyakarta, 20 maret 2003
Dear
Diary,
20
Februari 1998 adalah hari pertamaku tiba di Yogyakarta, sebenarnya aku tidak
tertarik datang ke tempat ini karena aku lebih suka di Jakarta. Aku khawatir
tidak bisa berbaur dengan sekitarku, bagaimana ya ??? Aku terpaksa ikut ke
Yogyakarta karena ayahku dipindah ke kantor cabang Yogyakarta, sebenarnya aku
tidak mau ikut tapi kedua ortuku memaksa, akhirnya aku pindah ke sini dengan
hati yang dongkol. Ayahku bekerja di perusahaan konstruksi di bagian manajer
marketing, sedangkan ibuku adalah ibu rumah tangga. Aku adalah anak tunggal
jadi kadang aku merasa kesepian karena tidak punya saudara yang tidak bisa aku
jadikan tempat curahan hati atau teman bermain, tapi rasa kesepian itu hilang
sejak aku bertemu dengan John...
Tiba-tiba ada cahaya yang memancar di
buku Harian Siska John terkejut lalu...
John merasa
pusing dan badannya terasa berat, sepertinya tadi ada cahaya terang yang
menyilaukan matanya lalu seperti ada kekuatan aneh yang menarik dia dan
membuatnya pingsan. Dia membuka matanya, bangkit berdiri dan dia terkejut
karena dia sekarang berada di depan rumahnya saat masih kecil. John mengucek-ngucek
matanya, barangkali dia salah lihat, sebab dia tadi ada di kamar Siska tapi
sekarang berada di depan rumahnya yang dulu.
Pagar
rumahnya yang dulu terbuka lalu keluarlah anak kecil, John terkejut dan diam
terpaku. Tubuhnya bergetar ketakutan, keringatnya mengalir, jantung berdetak
kencang, mata terbuka lebar, mulut juga terbuka, dan diam bagai patung, karena
saat ini dia melihat dirinya yang masih kecil.
John kecil
keluar rumah dan melihat ada anak kecil keluar, kemudian John kecil tersenyum
kecil lalu masuk rumah. John menolehkan kepalanya ke samping dan dia melihat
Siska kecil, seketika itu juga tubunhya lemas lalu dia duduk di jalan. Dia
menutup matanya dan berusaha untuk mengatur nafas. Dia berpikir supaya kuat
karena dia punya tujuan untuk mengetahui hal yang ingin disampaikan Siska kepada
dirinya. Dia menguatkan dirinya, membuka mata dan bangkit berdiri dengan sikap
yang gagah.
Siska kecil
melihat rumah tersebut dengan cemberut lalu ada tulisan berwarna hitam di depan
John
Sore hari saat aku
membuka pagar rumahku, aku bertemu dengan John. Aku merasa aneh mengapa dia
berdiri di depan pagar rumahku sambil tersenyum, mungkinkah anak ini sakit jiwa
atau ??? Aku tidak bisa mengatakan apa-apa karena menurutku anak ini aneh dan
...
Suasana
berubah dan John melihat dirinya yang masih kecil berdiri di depan rumah Siska.
Momen ini adalah momen ketika John berkenalan dengan Siska, awalnya dia pikir
Siska gadis judes tapi lama-lama dia terlihat lembut dan baik hati. Setelah
selesai berkenalan John kecil berjoget-joget senang dan menyanyi, Siska membuka
pagarnya lalu dia berakting sambil mengatakan cuaca hari ini bagus lalu dia
berjalan pelan 5 langkah lalu berlari menuju lapangan. Siska bingung lalu
menutup pagarnya, John terdiam mengingat tingkahnya yang konyol waktu itu.
John
merasa aneh dan garuk-garuk kepala, dia duduk di tengah jalan sambil menutup
mata, dan berpikir keras. Dia membuka mata, mengernyitkan dahi lalu menghela
nafas, diam memandang tanah, kemudian menghela nafas lagi dan berdiri. Dia
masih belum menemukan jawaban dan dia bertekad mengikuti kejadian ini sampai
akhir karena dia yakin bahwa peristiwa ini ada hubungannya dengan perkataan
Siska yang ingin dia ketahui sebelum meninggal.
Muncullah
tulisan warna hitam di udara...
Yogyakarta,
16 Juni 2003
Dear Diary,
Sudah 3 bulan ini aku
sekolah di SDN Taman Harapan Yogyakarta, ternyata ketakutanku tidak terbukti.
Aku mendapat banyak teman baik terutama my hero...
John merasa aneh dan kesal karena di
tulisan tersebut Siska menyebut My Hero, John memutuskan akan menemui Ana,
karena teman curhat Siska adalah Ana. Jadi dia beranggapan bahwa Ana tahu siapa
pahlawannya Siska.
Hari-hari di SD sangat menyenangkan tapi ada
kejadian yang nyebelin banget. Waktu itu aku membuat kincir angin tapi
gara-gara si bodoh John, kincir angin buatanku rusak, aku menangis dan tidak
menyapanya selama 1 minggu tapi dia diam-diam malah memperbaiki kincir anginku,
walaupun hasilnya tidak begitu bagus ya aku terima aja dan si bodoh itu aku
maafkan.
Tiba-tiba
suasana berubah...
John
berada di kelasnya yang dulu saat masih SD, saat melihat Siska kecil John
mendekati dan memarahi Siska kecil karena dengan seenaknya memanggil dia bodoh.
Dia bertanya kepada Siska kecil mengapa dia dipanggil bodoh, tapi Siska kecil
tidak menjawab. John sudah memutuskan setelah kejadian ini dia akan ke makam
Siska dan bertanya mengapa dia dipanggil bodoh.
John
kecil mendekati Siska yang menunjukkan hasil prakaryanya berupa kincir angin.
“
Siska apa itu ? “ tanya John kecil.
“
Ini namanya kincir angin, lihat ya “ jawab Siska kecil lalu menunjukkan hasil
prakaryanya dan semua teman bahkan John kecil tercengang melihat kincir angin
ersebut.
“
Hebat “ kata John kecil takjub.
“
Kamu buat apa ? “ tanya Siska kecil penasaran.
“
Aku buat Godzila “ jawab John kecil menunjukkan hasil prakaryanya yang dari
kayu.
“
Itu Godzila atau ulat raksasa ? “ tanya
Siska kecil bingung dengan prakarya John kecil.
“
Ini Godzila “ jawab John kecil jengkel.
John
menahan tawa melihat dirinya yang ternyata benar-benar lugu karena tidak bisa
membuat Godzila, malah prakaryanya terlihat seperti ulat raksasa. Pelajaran
dimulai dan banyak murid yang menunjukkan hasil prakaryanya, guru dan para
murid banyak yang mengatakan prakarya Siska hebat, sedangkan prakarya John
membuat semuanya tertawa dan juga senang.
Ketika
istirahat pertama, John mendekati Siska dan meminjam kincir anginnya akan
tetapi Siska tidak mengizinkannya sehingga John memaksa lalu prakarya Siska
tidak sengaja John rusakkan. Siska menangis dan banyak anak yang menyalahkan
John, melihat Siska menangis John meminta maaf tapi Siska malah diam dan
mengatakan John anak nakal. Mendengar itu John diam mematung.
John
melihat itu sedih, dia merasa bersalah ketika melihat Siska kecil menangis, suasana
berubah lagi dan dia melihat dirinya yang masih kecil berusaha memperbaiki
kincir anginnya Siska. Seminggu kemudian dia berhasil memperbaiki kincir angin
tersebut tapi hasilnya tidak memuaskan. Melihat dirinya yang waktu kecil tidak
bisa memperbaiki kincir angin membuat John semakin miris dan sedih, dia baru
tahu ternyata saat kecil dia itu bodoh.
John
kecil mengunjungi Siska untuk memberikan kincir angin yang telah dia perbaiki
tapi bukannya pujian yang dia dapatkan melainkan kata-kata menghina. John hanya
diam lalu meminta maaf, Siska diam dan mengacuhkannya tapi John melihat ada
senyuman kecil di wajah Siska kecil. Dia heran apakah itu hanya halusinasi atau
sebuah kenyataan.
5 Agustus 2011
Dear Diary,
Tidak terasa hari
kelulusan akan tiba, tahun depan kami semua akan melanjutkan kuliah atau
bekerja. Aku jadi tidak sabar untuk menghadapi hari esok, aku punya planning
sendiri. Aku mau kuliah, kerja lalu nikah, kalau aku memikirkan menikah aku
pasti mikirin dia, aku jadi malu sendiri, tapi dia tahu tidak ya, kalau aku
suka dia. Dia kenapa tidak nembak aku ??? padahal aku udah berikan dia tanda,
dia malah cuek, aku jadi sebel. Apa aku harus nembak dia ya ??? enggak ah kan
malu kalau cewek nembak cowok, sebel....sebel...sebel, aku hanya bisa berharap dia
nembak aku...
John semakin kesal membaca tulisan
dari diary Siska, dia akan cari tahu siapa laki-laki yang disukai Siska. Dia
akan memukul laki-laki itu karena tidak segera menembak Siska, dia pemanasan
bersiap untuk menghajar laki-laki tersebut. Sebentar lagi suasana berubah dan
wajah laki-laki bodoh itu akan kelihatan tapi...
2 Januari 2012
Dear Diary,
Kemarin waktu tahun
baru, kami merayakannya di rumah John. Bersama-sama teman SMA kami merayakan
acara tersebut, meskipun acaranya menyenangkan tapi begitu menyedihkan itu
karena...
John kesal dan memaki-maki tulisan
tersebut, dia berharap yang keluar adalah wajah laki-laki yang disukai Siska
tapi yang keluar malah tulisan saat tahun baru. Dia berkata banyak hal sambil
memukul dan menendang tulisan itu. 30 Menit kemudian dia kembali tenang dan
membaca tulisan yang masih belum hilang itu. Dia penasaran kenapa Siska sedih
pada saat itu apa yang membuat dia sedih, dia mengingat-ingat acara tersebut.
Ketika dia mencoba mengingat suasana berubah kembali saat tahun baru di rumah
John.
John
melihat dirinya dan Siska berbicara 4 mata.
“
Siska, kamu rencananya setelah ini mau kemana ? “ tanya John.
“
Aku mau meneruskan kuliah di Yogyakarta, kalau kamu ? “ tanya Siska.
“
Aku juga mau meneruskan kuliah tapi...aku mau melanjutkan kuliah di Australia,
kau mau kan ikut denganku ? “ tanya John penuh harap.
“
Hmmm...sebenarnya aku mau ikut denganmu tapi sepertinya aku tidak bisa karena
aku mau kuliah di sini “ jawab Siska.
“
Kenapa ? bukankah kamu mau melanjutkan studi di tempat yang baik, kita bisa
mendapatkan pendidikan yang baik di sana, ayolah pertimbangkan baik-baik
tawaranku “ pinta John agak memaksa.
“
Maaf aku tidak bisa, aku hanya ingin
kuliah di tempat yang bisa membuatku nyaman dan itu di sini, sudahlah kita kan
bisa saling memberi kabar melalui sosmed atau telepon “ kata Siska.
“
Baiklah, kalau itu keptusanmu, aku tidak akan memaksa, tapi kamu baik-baik ya
disini kalau ada apa-apa bilang kepadaku, oke sayang ? “ tanya John mengedipkan
matanya.
“
Sayang...sayang...kepalamu peyang, dasar genit ayo kita kembali “ jawab Siska
kesal.
John
melihatnya dengan diam lalu suasana tempat pun menjadi hitam pekat, dia masih
tidak mengerti apa yang membuat sahabatnya itu bersedih.
Cahaya
putih yang pekat menyinari dirinya, dia melihat Siska berdiri di depannya. John
diam cukup lama, mendekati Siska dan memegang wajahnya. Dia dapat menyentuh sahabatnya
itu, dia bertanya banyak hal kepada sahabatnya.
“
Aku benar-benar senang, ternyata kamu masih hidup, ayo kita menemui semuanya”
kata John senang.
“
Maaf aku tidak bisa waktuku terbatas “ kata Siska sedih.
“
Apa maksudmu ? “ tanya John tidak mengerti.
“
Aku sudah tidak ada di dunia ini John, kau harus tahu itu, aku bisa ada di sini
karena ada yang harus aku sampaikan kepadamu “ kata Siska.
“
Apa ? jadi kamu...kamu...tidak kamu tidak boleh pergi lagi...karena
aku...karena aku...karena aku mencintaimu “ kata John yang matanya
berkaca-kaca.
“
Sama aku juga mencintaimu, tapi sekarang aku harus pergi “ kata Siska tersenyum
sambil meneteskan air matanya.
“
TIDAK !!! KAMU TIDAK BOLEH PERGI !!! AKAN AKU LAKUKAN APAPUN AGAR KAMU HIDUP
KEMBALI !!! MESKIPUN HARUS MENJUAL JIWAKU PADA SETAN !!! AKU RELA...AKU RELA
!!! KUMOHON TUNGGU AKU !!! “ teriak John sambil menangis.
“
Jangan menangis lagi, aku tahu ini berat bagimu, tapi dengarkan aku, dimanapun
kamu berada aku akan selalu ada di hatimu, jangan melakukan hal itu, terimalah
kenyataan ini, kamu harus bergerak maju, kalau kamu melakukannya sama saja kamu
melukai hatiku, ingatlah itu John “ kata Siska memegang wajah John sambil
menangis,
“
Tanpamu...aku tidak bisa apa-apa...kamulah tujuanku...kamulah mimpiku...aku
harus bagaimana ? “ tanya John yang terduduk lemas sambil menangis.
“
Jadilah orang sukses, bantulah orang-orang di sekitarmu, menikahlah dengan
perempuan yang baik, jadikan keluargamu menjadi keluarga yang harmonis,
milikilah anak yang baik, dan...dan...dan lakukan hal-hal yang membuatmu senang
dan bahagia...mulailah kejar mimpimu, karena hal itu yang akan membuatmu
bertahan terhadap segala rintangan berat “ jawab Siska sambil menangis.
“
...kalau itu maumu akan aku lakukan permintaanmu, dimanapun kau berada, di
dalam hatiku ada namamu yang terukir di dalam hatiku untuk
selamanya...dan...dan...dan...aku...aku sudah melepasmu...hiduplah dengan
tenang di sana...wahai my angel Siska “ kata John berdiri lalu menangis.
“
Terima kasih, karena kau telah rela aku pergi my hero John “ kata Siska lalu
menghilang.
Semuanya
berubah menjadi putih lalu...
John
membuka matanya, dia bangun dan dia telah berada di rumah sakit. Ibunya melihat
dia telah bangun dan memanggil dokter. Setelah selesai memeriksa dokter
menyatakan kondisinya baik-baik saja dan dalam waktu dekat dia bisa pulang.
Satu
minggu kemudian John telah pulang dari rumah sakit, menurut kesaksian dari
ibunya dia telah pingsan selama 3 hari. Dia memberitahu keluarga Siska dan
teman-temanya tentang kejadiaan yang menimpanya.
Dia
bersama keluarga dan teman-temannya mengunjungi makam Siska dan berdoa
untuknya. John berjanji akan memenuhi permintaan Siska. (cerpen karya : Syaiful Anwar)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar