PERSAINGAN
2 RAKSASA SPANYOL
sumber gambar google.com
Persaingan adalah perlombaan antar
individu atau team yang bertujuan untuk menang. Persaingan dalam suatu event
atau kejadian adalah sesuatu yang wajar karena kita manusia mempunyai insting
untuk bertahan hidup dan insting untuk menang. Persaingan menimbulkan rivalitas
yaitu suatu kegiatan yang saling bertanding untuk menjadi no satu, Dalam
persaingan ada yang dilakukan dengan cara jujur, ada yang dilakukan dengan cara
tidak jujur.
Apabila sesorang bertanding dengan
tidak jujur maka akan membuat suatu pertandingan menjadi ternoda, tapi bila
kita bertanding dengan cara yang jujur maka pertandingan tersebut akan berjalan
seru.
Hidup ini terdapat persaingan yang
signifikan terhadap individu atau team, salah satunya adalah persaingan antara
2 raksasa Spanyol Real Madrid atau Barcelona. 2 Raksasa ini selalu menjadi
perbincangan hangat bahkan panas, bukan hanya beritanya yang panas bahkan
pertandingannya pun berjalan panas. Ketika 2 raksasa ini bertanding skornya
selalu selisih tipis, bahkan ketika yang satu menang yang lain juga menang dan
ketika yang satu kalah yang lain juga kalah, seakan-akan kedua team ini seperti
kakak beradik.
PERMUSUHAN antara
Barcelona dan Real Madrid bermula pada masa Franco. Siapa Franco? Dia adalah
seorang Jenderal yang menjadi penguasa diktator di Spanyol pada tahun 1930-an.
Barcelona, sampai sekarang, adalah ibukota dari Provinsi Catalonia (Catalunya), yang
sebagian besar penduduknya adalah dari suku bangsa Catalan dan Basque.
Bagi rakyat Catalan, ada istilah
semacam ‘El Barca Es Mas Que Un Club’ (Barca bukan hanya sekedar
klub), namun lebih dari itu. Barcelona merupakan cerminan dari dendam
‘pemberontakan’ dan perjuangan social-politik kaum tertindas, terpinggirkan,
terjajah di sebuah wilayah kekuasaan yang bernama kerajaan Spanyol.
Gambaran perlawanan yang paling jelas
adalah kalimat ‘Catalonia is Not Spain’ yang selalu menghiasi spanduk
fans Barcelona ketika kesebelasan kesayangan mereka bertanding-hadapan melawan
Real Madrid, yang sudah sejak tahun 1930-an, pada zaman Jenderal Franco yang
kejam, merupakan klub favorit pemerintah Spanyol.
Jenderal Franco melarang penggunaan
bendera dan bahasa daerah Catalan. FC Barcelona kemudian menjadi satu-satunya
tempat dimana sekumpulan besar orang dapat berkumpul dan berbicara dalam bahasa
daerah mereka. Oleh sebabnya, setiap laga El-Clasico pendukung Barca terlihat
kerap membawa bendera Catalonia (biru, kuning dan merah-marun) sebagai bendera
mereka, bukan bendera nasional Spanyol pada umumnya.
Pada tahun 1936, Jenderal Franco kemudian
bertindak lebih jauh. Josep Suol, Presiden Barcelona waktu itu, dibunuh oleh
pihak militer dan sebuah bom dijatuhkan di FC Barcelona Social Club pada tahun
1938.
Di lapangan sepakbola, titik nadir permusuhan ini terjadi pada tahun 1941 ketika para pemain Barcelona diinstruksikan (dibawah ancaman militer) untuk kalah dari Real Madrid.
Di lapangan sepakbola, titik nadir permusuhan ini terjadi pada tahun 1941 ketika para pemain Barcelona diinstruksikan (dibawah ancaman militer) untuk kalah dari Real Madrid.
Barcelona kalah dan gawang mereka
kemasukan 11 gol dari Real Madrid. Sebagai bentuk protes, Barcelona bermain
serius dalam 1 serangan dan mencetak 1 gol. Skor akhir 11-1, dan 1 gol itu
membuat Franco kesal. Kiper Barcelona kemudian dijatuhi tuduhan apengaturan
pertandingan dan
dilarang untuk bermain sepakbola lagi seumur hidupnya.
Sejak saat itu FC Barcelona menjadi
semacam klub Anti-Franco dan menjadi simbol perlawanan Catalonia
terhadap Franco, dan secara umum, terhadap Spanyol. Ada juga klub-klub lain di
Catalonia seperti Athletic Bilbao dan Espanyol. Athletic Bilbao sampai saat ini
tetap pada idealismenya untuk hanya merekrut pemain-pemain asli Basque, tetapi
dari segi prestasi tidak sementereng Barcelona.
Demikian juga dengan Espanyol. Sementara yang dijadikan simbol musuh, tentu saja, adalah klub kesayangan Franco yang bermarkas di ibukota Spanyol, FC Real Madrid. Sebagai sebuah simbol perlawanan, kultur dan karakter Barcelona kemudian terbentuk dengan sendirinya. Siapapun pelatihnya, dan gaya apapun yang dipakai, karakternya hanya satu: Menyerang!.
Demikian juga dengan Espanyol. Sementara yang dijadikan simbol musuh, tentu saja, adalah klub kesayangan Franco yang bermarkas di ibukota Spanyol, FC Real Madrid. Sebagai sebuah simbol perlawanan, kultur dan karakter Barcelona kemudian terbentuk dengan sendirinya. Siapapun pelatihnya, dan gaya apapun yang dipakai, karakternya hanya satu: Menyerang!.
Sebagai penyerang, Barcelona bermaksud untuk mendobrak dominasi Real Madrid (dan bagi orang Catalonia, mendobrak dominasi Spanyol). Untuk itulah Barcelona pantang bermain bertahan, karena itu adalah simbol ketakutan. Kalah atau menang adalah hal biasa. Tapi keberanian memegang karakter, itulah yang menjadi simbol perlawanan.
Pada tahun 50-an dan 60-an, Barca memang
tertutup oleh kejayaan Real Madrid yang waktu itu diperkuat Ferenc Puskas, Di
Stefano, dsb. Sebagai anak emas Franco sejak tahun 1930-an, Real Madrid memang
selalu memiliki sumber dana besar untuk belanja pemain. Barcelona sendiri, pada
2 dasawarsa tersebut hanya bisa memenangi 4 kali liga spanyol, 2 kali piala
raja, dan satu kali piala Inter City Honest (yang kemudian menjadi UEFA Cup).
Pada tahun 1973, seorang pemain Belanda
yang kelak menjadi salah satu legenda Barcelona, Johan Cruyff, bergabung dari
Ajax. Dalam pernyataan persnya ketika diperkenalkan, Cruyff menyatakan bahwa ia
lebih memilih Barcelona dibanding Real Madrid karena ia tidak akan mau bermain
di sebuah klub yang diasosiasikan dengan Franco.
Bersama kompatriotnya, Johan Neeskens,
mereka langsung membawa Barcelona memenangi gelar liga spanyol (setelah
sebelumnya 14 tahun puasa gelar), dan dalam prosesnya tahun itu sempat
mengalahkan Real Madrid di kandang Madrid sendiri dengan skor 5-0 (!).
Pada tahun itu Johan Cruyff dinobatkan
sebagai pesepakbola terbaik Eropa, dan memberi nama anaknya dengan nama khas
Catalan, yaitu Jordi. Statusnya sebagai legenda menjadi abadi. Jordi Cruyff
sendiri pada akhirnya tidak pernah bisa sebesar ayahnya. Karir sepakbolanya
lebih banyak dihabiskan di klub-klub medioker, meski sempat beberapa tahun
memperkuat Manchester United.
Selanjutnya, permusuhan itu terus ada,
meskipun tidak sesengit pada tahun-tahun awalnya, sampai sekarang. Bisa
dibilang, rivalitas saat ini sudah lebih sportif dan berjalan dengan lebih
sehat. Tapi
permusuhan yang sejak dulu telah begitu mengakar menjadikan duel diantara
keduanya selalu menjanjikan sesuatu yang spesial.
Inilah mengapa duel antara Barcelona dengan Real Madrid yang terjadi setidaknya 2 kali setiap tahunnya (di liga Spanyol) disebut dengan el classico, karena memang menyajikan satu duel klasik dengan sejarah panjang terbentang dibelakangnya.
Inilah mengapa duel antara Barcelona dengan Real Madrid yang terjadi setidaknya 2 kali setiap tahunnya (di liga Spanyol) disebut dengan el classico, karena memang menyajikan satu duel klasik dengan sejarah panjang terbentang dibelakangnya.
Meski berulang setiap tahun, akan tetapi
saking monumentalnya duel ini membuat Johan Cruyff dan Bobby Robson ketika
menjadi pelatih Barcelona pada era akhir 1980-an sampai akhir 1990-an sampai
mengibaratkan el classico sebagai sebuah perang, bukan sekedar pertandingan sepak bola.
Baik pelatih Real Madrid maupun pelatih Barcelona ketika menghadapi el classico akan merasa seperti membawa sepasukan 'serdadu' perang, bukan sebuah 'kesebelasan' sepak bola, karena begitu besarnya kehormatan yang dipertaruhkan.
Baik pelatih Real Madrid maupun pelatih Barcelona ketika menghadapi el classico akan merasa seperti membawa sepasukan 'serdadu' perang, bukan sebuah 'kesebelasan' sepak bola, karena begitu besarnya kehormatan yang dipertaruhkan.
Demikian juga pertaruhan bagi pelatih,
karena ketika dia diangkat sebagai pelatih seolah sudah ada beban yang
diberikan oleh klub: "Anda boleh kalah dari siapa saja di liga ini,
tapi jangan sampai kalah dari Real Madrid...,"
Meski begitu di dalam lapangan, peperangan ini sepanjang sejarahnya selalu
berlangsung dalam sportifitas yang tinggi, karena sportifitas pun merupakan
satu bentuk kehormatan yang harus dijaga. Ini soal nama baik.
Transfer pemain adalah salah satu bentuk
perang di luar lapangan. Dalam hal ini, perpindahan pemain dari Barcelona ke
Real Madrid (maupun sebaliknya) akan dianggap sebagai sebuah bentuk
pengkhianatans Figo mungkin adalah salah seorang yang paling mengerti mengenai
hal ini.
Direkrut oleh Barcelona pada tahun 1996, pemain Portugal yang kala itu bukan siapa-siapaa tersebut kemudian menemui masa-masa jayanya. Barcelona memberinya peranan signifikan sebagai sayap kanan tim, dan bersama Rivaldo membawa Barcelona berjaya pada akhir tahun 1990an.
Direkrut oleh Barcelona pada tahun 1996, pemain Portugal yang kala itu bukan siapa-siapaa tersebut kemudian menemui masa-masa jayanya. Barcelona memberinya peranan signifikan sebagai sayap kanan tim, dan bersama Rivaldo membawa Barcelona berjaya pada akhir tahun 1990an.
Akan tetapi, pada tahun 2001, dunia
tersentak ketika Figo menerima tawaran Real Madrid dengan iming-iming gaji dua
kali lipat dan nilai transfer yang ketika itu menjadi rekor pembelian termahal
seorang pemain sepak bola.
Nilai itu melebihi batas klausul transfer
Figo, sehingga Barcelona harus menerima tawaran tersebut berdasarkan aturan
Bosman. Meski begitu, transfer itu tetap tidak akan terjadi seandainya Figo
secara pribadi tidak menerima tawaran Real Madrid. Toh akhirnya Figo
berkhianat.
Dalam duel el classico tahun berikutnya,
ketika pertandingan dilangsungkan di Nou Camp (kandang Barcelona), Figo
menerima sambutan monumental yang mungkin tidak akan dilupakannya seumur hidup.
Seorang pendukung Barcelona di
tengah-tengah pertandingan berhasil menerobos pagar petugas keamanan, sambil
memakai bendera Barcelona sebagai jubah, kemudian berlari ke arah Figo membawa
sebuah hadiah istimewa, yakni: Sebuah kepala babi, lengkap dengan darah masih
menetes dari lehernya. Ia kemudian melemparkan bendera Barcelona dan kepala
babi itu ke arah Figo.
Figo sendiri hanya terdiam menunduk
beberapa saat, lalu berjalan menjauh. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat
itu, karena ia tahu kepala babi itu adalah simbol keserakahan dan
pengkhianatan.
Dalam hal prestasi, Real Madrid memang
masih di atas Barcelona. Jarak prestasi itu terjadi terutama pada tahun
1950-1970an, ketika Real Madrid menjadi anak emas Franco dan memiliki kekuatan
finansial jauh diatas Barcelona untuk membeli bintang-bintang sepakbola nan
bersinar dari seluruh dunia dan tradisi itu masih berlanjut hingga sekarang.(Sumber: ATJEHCYBER - http://www.atjehcyber.net/2012/03/sejarah-permusuhan-barcelona-dan-
real.html#ixzz3PiBPEf7Z)
Bukan
hanya 2 team team tersebut yang bersaing melainkan 2 pemainnya juga saling
bersaing satu sama lain dia adalah Cristiano Ronaldo dan juga Lionel Messi. 2
pemain bintang ini saling berebut untuk menjadi pemain terbaik, dengan
kemampuan mereka berdua yang luar biasa membuat Real Madrid dan Barcelona
menjadi 2 tim terkuat yang disegani oleh negara-negara lainnya.
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar